Judul asli: DiMoia, John. “Atoms for Sale? Cold War Institution-Building and the South Korean Atomic Energy Project, 1945-1965.” Technology and Culture 51 (2010): 589-618. DOI: 10.1353/tech.2010.0021

Technology and CultureProgram nuklir Korea Selatan memiliki sejarah yang dinamis. Berawal dari bantuan teknologi nuklir dari Amerika Serikat di tahun 1950an setelah Perang Korea, sekarang Korea Selatan telah memiliki teknologi mutakhir untuk diekspor ke negara-negara lain.  Dalam artikel ini John DiMoia menawarkan pendekatan yang berbeda dari “model transmisi” di disiplin ilmu sejarah teknologi dan kerangka analisa “negara berkembang” di dalam kajian Korea.  DiMoia memusatkan perhatiannya pada interaksi antara ilmuwan nuklir Amerika Serikat yang membantu para ilmuwan Korea Selatan mengembangkan program nuklir mereka di akhir tahun 1950an.  Ilmuwan kedua negara memainkan peran aktif dalam mencapai kesepakatan dalam berbagai isu untuk mendirikan program nuklir Korea Selatan, dan mereka memiliki berbagai motivasi termasuk melaksanan program Atom untuk Perdamaian (Atoms for Peace), memasok listrik untuk negara berkembang, dan membangun komunitas sains. Oleh karenanya, posisi ilmuwan di proyek nuklir tidak selalu seirama dengan posisi yang diambil oleh negara, sehingga terjadi kesulitan memilih tempat untuk reaktor riset dan menentukan langkah program ini. DiMoia beargumen kalau interaksi kompleks semacam inilah yang membuka jalan untuk program nuklir Korea Selatan.

Tulisan asli oleh Seong-Jun Kim diterjemahkan oleh Anto Mohsin

Artikel: “Atoms Untuk Diperjualbelikan? Pembangunan Institusi Perang Dingin dan Proyek Atom Korea Selatan, 1945-1965” (2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published.