Judul asli: Yamazaki, Masakatsu. “Nuclear Energy in Postwar Japan and Anti-Nuclear Movements in the 1950s.” Historia Scientiarum 19, no. 2 (2009): 132-145.

Artikel yang merupakan hasil dari lokakarya internasional yang diadakan di Tokyo Institute of Technology di bulan Maret 2009 ini menganalisis sikap Jepang yang mendua mengenai nuklir setelah tahun 1945. Dalam uraian Yamazaki, sejarah nuklir Jepang digambarkan lebih dipenuhi pertarungan dan konflik daripada yang biasa diceritakan, dan muncul dengan latar belakang pergerakan anti nuklir yang kuat di dalam negeri.

Argumen intinya melibatkan peristiwa keji Lucky Dragon (Daigo Fukuryū Maru) di tahun 1954, di mana sebuah kapal penangkap ikan Jepang terpapar radiasi nuklir karena lokasinya yang dekat dengan tempat uji coba nuklir Bikini. Peristiwa ini merupakan kegagalan Amerika Serikat mengantisipasi radius ledakan dan pola kejatuhan partikel-partikel debu radioaktif. Bagi Yamazaki, peristiwa ini menjadi titik kunci yang menyadarkan publik Jepang, melalui pemberitaan di media dan aktivitas para ilmuwan terkenalnya, mengenai realitas suatu ledakan nuklir. Ini berbeda dengan tanggapan yang lebih ringan setelah pemboman di tahun 1945 karena disensor oleh pemerintahan Pendudukan.

Walaupun kali ini ada usaha yang sama untuk mengontrol kejadian ini, informasi mengenai luka bakar radiasi dan kemungkinan terkontaminasinya hasil laut cepat keluar dan meningkatkan kekhawatiran hampir seluruh lapisan masyarakat Jepang. Sebagai contoh, Yamazaki menceritakan aktivitas penelitian ilmuwan Jepang yang mengumpulkan dan menganalisa data setelah uji coba nuklir untuk memahami hasil ledakan. Pada saat yang bersamaan, dia juga menceritakan suara-suara kritis para ibu rumah tangga Jepang yang membantu pembentukan pergerakan anti-nuklir.

Yang membuat diskusi ini sangat menarik bagi peminat sejarah adalah kesadaran bahwa Jepang akan memulai program nuklirnya tidak lama setelah itu. Yamazaki menunjukkan bahwa perkembangan program nuklir Jepang bukanlah suatu hal yang tak terelakkan. Bahkan perkembangannya dilawan dan diperdebatkan di berbagai lapisan karena sebagian besar warga Jepang menentangnya.

Artikel ini berakhir dengan suatu diskusi mengenai prinsip yang mendasari sikap Jepang terhadap bom nuklir. Yamazaki menantang cerita resmi dan menujukkan bahwa sistem yang ada sekarang tidak berjalan. Dia bahkan mengisyaratkan bahwa pemerintah Jepang ikut andil dalam perdagangan senjata nuklir yang disalurkan oleh Amerika Serikat dengan mengamankan jalurnya di pelabuhan. Di era pasca Fukushima, artikel Yamazaki merupakan kontribusi yang diperlukan untuk memperkaya pengetahuan dan sudut-sudut pandang tentang energi di Jepang, terutama mengenai perkembangan energi nuklir sipil.

Tulisan asli oleh John P. Dimoia (National University of Singapore) diterjemahkan oleh Anto Mohsin (Hobart and William & Smith Colleges). Disunting oleh Rita Padawangi (National University of Singapore).

Artikel: “Energi Nuklir di Jepang Pasca Perang dan Pergerakan Anti-Nuklir di tahun 1950an” (2009)
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published.